Rabu, 09 November 2011

SEHARI BERSAMA KANG ADI

Dedy Adi Mirza, S.Hum seorang dosen muda yang dikagumi oleh kalangan kaum hawa. Beliau ditugaskan disalah satu institut negeri di kota Solo untuk mengajar mata kuliah bahasa inggris. Dan kebetulan beliau yang mengampu sebagai dosen dikelasku. Aku memanggilnya dengan sebutan mas, agar lebih akrab aja. *tapi kalau diluar kelas.
Karena salah satu hobbynya sama dengan aku yaitu kuliner, dan kang Adi juga  baru 4bulan tinggal di Solo. Beliau mengajak aku serta teman satu kostnya untuk wisata kuliner dan menyelesaikan tugas pascasarjananya.
Tut.tut..tut.tut.. terdengar bunyi pesan yang sudah tak asing lagi ditelingaku. Kurogoh tasku dan kuambil n70 kesayanganku, kulihat 1pesan baru. ‘Bib, besok gmn?’
‘oke, bsk pagi q kosong mas, jdnya kmn?’ Kubalas sms dari kang Adi.
Sms kami berlanjut dan akhirnya diputuskan untuk ke warung makan nabila yang terletak di jl. Slamet Riyadi Solo.
***
Pagi yang indah, cuaca hari ini sedikit dingin karena semalam kampungku diguyur hujan yang sedikit lebat. Rasanya malas untuk beraktifitas. Kulihat agendaku, hampir aku lupa hari ini ada janji dengan pak dosen. Segera aku bersiap dan sesuai kesepakatan kita malam tadi, kita bertemu di ELTI Solo. Aku berangkat dengan mio merahku menuju manahan.  Beberapa saat kemudian kulihat kang Adi bersama kang Ivan salah satu teman kostnya tiba ditempat yg telah disepakati.
Hari semakin siang, segera kami meluncur ke rumah makan Nabila yang berada disebelah barat Solo Square. Setelah makan, kami ngobrol-ngobrol seputar aktivitas masing-masing.
‘Bib, habis ini kita mau ke Sukoharjo. Ikut aja yuk.. ‘
‘ngapain??’
‘aku ada tugas riset ke LBB san diego. Gmn?’
‘oke deh..’ kuputuskan untuk ijin kuliah siang ini.
Setelah itu kami menuju kearah barat menuju kota Sukoharjo. Setengah jam kemudian, gapura pembatas yang bertuliskan ‘selamat datang sukoharjo makmur’ kami lewati. Azan dhuhur telah berkumandang sekitar 30 menit yang lalu. Lalu kami menuju masjid raya baiturrohmah untuk melaksanakan ibadah sholat dhuhur. Rasanya sedikit capai, setelah kutempuh jarak kuranglebih 15km dengan motor seperjuangan. Kugunakan waktu dimasjid untuk beristirahat sebentar.
Setelah semua selesai sholat, kita berkumpul diserambi masjid untuk membicarakan yang tadi belum sempat dibicarakan.
‘bentar ya.. sekalian nunggu mba Upik’ Kata kang Adi menyela pembicaraan kami
‘siapa itu mba Upik?’ tanyaku
‘temenku yang nanti mau nganter ke LBB san diego’
‘ooow… ‘
Terdengar suara motor supraX berhenti diparkiran masjid, seorang wanita cantik turun dari motor itu dan berjalan menemui kami. Panjang umur, yang dibicarakan muncul juga. Hhihi.
Karena sudah ditunggu manager LBBnya, kita berempat langsung menuju ‘san diego english course’. Tempatnya tidak jauh dari masjid itu.  Sesampainya disana kulihat sebuah bangunan tua yang sepertinya baru saja direnovasi. Agak sedikit angker juga kelihatannya, rumput – rumput yang tinggi, dengan pohon mangga yang besar melambai – lambai dan disebelah kirinya ada lahan kosong, hiiii serem... ‘apa ada yang mau kursus disini’ pikirku dalam hati. Kuparkirkan motorku didepan garasi yang sudah diubah menjadi kelas oleh pemiliknya. Sementara kang Adi dan mba Upik menyelesaikan tugasnya, aku berjalan melihat kondisi LBB yang menurutku sedikit serem. Semua terlihat baik, tidak ada hal yang menakutkan seperti yang terbayang dalam fikiranku. Aku duduk diteras ‘LBB san diego’ ditemani kang Ivan yang baru kukenal hari ini. Kami ngobrol panjang lebar, tentang asalnya juga tentang pengalamannya selama ini. Dan ternyata kang Ivan pernah menjadi tentor di salah satu cabang LBB yang dulu kuikuti. Hebat juga kang Ivan ini.. dan aku juga lebih tau kampung bahasa yang ada di Pare karena kang Ivan.
Tak terasa, waktu terus berjalan. Kulihat jam yang melekat ditangan kananku, rupanya sudah jam 2. Lama-lama bosan juga. Aku kembali berdiri dan berjalan keluar pekarangan, terlihat kampung yang begitu sepi. Hanya ada satu dua motor yang lewat dijalan itu. Lalu aku duduk sendirian dipojok gerbang rumah itu, aku tak tau harus berbuat apa. Tiba-tiba terdengar suara kang Adi memanggilku,
‘Bib, ayo mau pulang ngga?’
‘iya mas, tunggu sebentar’.
Aku berjalan menuju motorku dan kunyalakan mesinnya. Motor kami berjalan menjauh dari tempat itu. Akan kurindukan kenangan angker itu. Setelah itu mba Upik berpisah dari rombongan karena rumahnya hanya beberapa meter dari tempat itu. Hmm, kita bertiga lagi. Kami lanjutkan perjalanan menuju singosaren plaza atau orang lebih mengenalnya dengan sebutan matahari. Seperti biasa, jalanan penuh oleh mobil dan motor. Akhirnya sampai juga di parkiran matahari. Setelah berada didalam, terlihat kang Adi sedang sibuk memilih-milih kemeja yang tertata rapi dipojok ruangan. Sementara kang Ivan memilah-milah celana jeans yang ada di dalam box. Dan aku sendiri, berdiri didepan rak yang berisi gantungan baju-baju kantor. Aku berjalan mendekati kang Adi yang terlihat bingung.
‘gimana mas, udah dapet belum kemejanya?’
‘pilihin dong bib… yang cocok buat aku yang mana’.
Kami berpindah dari rak satu ke rak yang lain, sampai di rak yang berisi kaos-kaos santai. Saat kang Adi memilah-milah baju, dia menemukan kaos zebra berwarna grey.
Setelah mantap, kami menuju kasir untuk membayar kaos tadi. Next, tiba-tiba kang Adi ngidam baso. Kita cari warung baso didaerah situ, ternyata tutup semua karena masih satu hari pasca idul adha.
‘kita cari daerah UMS aja yuk..’ ajak kang Ivan.
Okee.. kita cabut dari tempat itu kearah Pebelan. Kita jelajah warung demi warung, kios demi kios, untuk mendapatkan baso. Hasilnya nihil, tak ada warung baso yang buka.
Kasihan banget yah.. mau cari baso aja susahnya minta ampun.. Hhehe.
 ‘mas, ayo kita liat outlet saos solo yang kemarin mas Adi ceritain’. Pintaku pada pak dosen.
‘okay bib...’
Kami mampir ke solo corner untuk melihat-lihat apa aja yang dijual disana. Mereka mahasiswa yang kreatif, desain kaos yang mereka buat memang patut diacungi jempol.
Hari semakin sore, perut semakin lapar. Tiba-tiba kang ivan bilang ‘kang, disana tadi ada warung baso yang buka’. Kami ikuti kemana berjalannya motor yang dikemudikan kang Ivan. Hingga akhirnya berhenti didepan warung baso.
 setelah kita habiskan 3 mangkuk mieso dan jam dinding di warung baso itu menunjukkan pukul 5. kurasa matahari segera tenggelam.. aku putuskan untuk pulang kerumah.. sementar kang Adi dan kang Ivan melanjutkan perjalanannya menuju carrefour pabelan.
hari ini bener-bener melelahkan tapi I'm very happy. :D

kamar kecil pojok rumah
7nov'11

Tidak ada komentar:

Posting Komentar